Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta bekerjasama dengan Pustakawan Praktikum ( Pustikum ) mengadakan serangkaian kegiatan webinar dengan tema “Galeri, Library, Archive and Museum in Islamic Propetic” berlangsung pada Kamis, 24 Februari 2021,dengan menghadirkan dua narasumber yang sangat luar biasa yaitu Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil. dan  Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., SS, M.Hum. webinar ini dilaksanakan di cloud zoom meeting, yang dihadiri oleh 260 peserta. Dengan pemandu acara Melinda Lussyana, dan Ibu Alfida , S.Ag, SS, M.LIS sebagai moderator.

Materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil. yang merupakan seorang guru besar antropologi di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Beliau menyampaikan materi yang bertajuk Pardigma Profetik Islam : Epistemologi, Etos dparadigma an Model. Prof. Heddy memaparkan paradigma merupakan kerangka pemikiran yang terdiri dari konsep – konsep yang saling berkaitan satu dengan yang lain. Sedangkan profetik diambil dari kata prophet yang berarti Nabi, yang bermakna bersifat seperti Nabi, Prediktif  dan memprakirakan Kenabian. Lalu Islam d dibawa oleh nabi dengan maksud menyempurnakan akhlak manusia. Sehingga Islam di dunia  berfungsi sebagai beberapa paradigma. Pertama, beliau menuturkan Islam sebagai Paradigma moralitas yaitu dimana khasanah pengetahuan Islam banyak berhubungan dengan budi pekerti dan masalah akhlak. Kemudian, beliau menyampaikan tentang Islam sebagai paradima keilmuan. Khasanah pengetahuan islam menjadi sumber inspirasi utuk mengisi unsur paradigma, salah satu cabang keilmuan misalnya, Islam sebagai paradigma kepustakaan. Beliau menuturkan Al- Quran sebagai salah satu sumber untuk ilmu kepustakaan. Islam sebagai paradigma keilmuan memerlukan rekonseptualisasi isi paradigma, dari asumsi asumi dasar, landasan hingga metedologi nya, karena menurut beliau hal itu merupakan elemen  awal paradigma.

Prof. Heddy menuturkan basis filosofis  paradigma profetik islam dengan model tauhid. Yaitu model hubungan antara Allah, Nabi, manusia dan alam, menunjukkan posisi manusia dan nabi dalam relasinya dengan Allah yang semuanya adalah ciptaan Allah. Manusia dengan allah berhubungan melalui wahyu,  wahyu adalah tali Allah model ini menjadikan wahyu menjadi salah satu unsur dan basis pengetahuan manusia. karena pengetahuan manusia masih terbatas jadi kita perlu mengubungkan dengan teologi. Wahyu disini adalah kita atau Al-Quran sebagai sumber pengetahuan kita. Filsafat profetik mengembalikan ‘wahyu’ sebagai  salah satu pengetahuan dan salah satu sumber pengetahuan. Berbeda dengan ilmu pengetahuan barat yang menolak metafisika, dan mengakui sumber pengetahuan sebagai hanya berasal dari akal atau observasi saja. Paradigma profetik Islam tidak menolak semua pemikiran barat dengan syrarat tidak menyalahi Al-Quran dan hadist.

Prof Heddy menjelaskan, basis filosofis paradigma profetik, basis filosofis dimulai dengan rukun iman, rukun islam dan ihsan. Kemudian di lanjutkan dengan asumsi dasar tentang pengetahuan. Implikasi basis filosofis tidak merusak, tetapi menambahkan dan mengokohkan kerangka berpikir kita dan akan menghasilkan ilmu kepustakaan profetik. Etos kita juga akan dipengaruhi bila berpindah kepada model tauhid. Beliau menuturkan model 2, yaitu insan profetik adalah manusia yang taat menghamba. Terakhir, beliau menambahkan ketika kita mengubah retorasi ilmu pengetahuan dengan menghubungkannya dengan Islam dan menggunakan Paradigma Profetik Islam maka pengetahuan tersebut akan lebih baik.

Materi kedua disampaikan oleh Dr. Ade Abdul Hak, S.Ag., SS, M.Hum. Pak Ade begitu sapaan beliau, adalah seorang dosen di Fakultas Adab dan Humaniora tepatnya di Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada kesempatan hari ini Pak ade menyampaikan materi yang berjudul Paradigma Kepustakawanan Profetik : Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi. Pemaparan ini mempunyai ;atar belakang diantaranya pengembangan TIK, SN Dikti dan Visi misi Prodi Ilmu Perpustakaan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan perubahan paradigma. Pembahasan pertama mengenai permasalahan perkembangan TIK memunculkan dehumanisasi,deliberasi dan instransendensi muncul pula anomali pengetahuan untukengatasi itu dibutuhkan kemampuan social kognitif yaitu kemampuan e-literasi, terdiri dari kemampuan literasi informasi, literasi media, literasi moral dan kompetisi belajar dan berpikir. dimulai dari hakikat kepustakawanan. definisi keputakawanan menurut essay Andre Cosette, bahwa kepustakawanan itu adalah cabang pembelajaran yang berkaitan dengan pengenalan, pengumpulan, pengorganisasian, preservasi dan pemanfaat rekaman grafik dan tercetak (1934). Kepustakawanan harus dipandang sebagai komunikasi antara pengetahuan dan masyarakat (1965). Pada bagian ini keberadaan orang mulai muncul yaitu masyarakat. Kepustakawanan adalah suatu bentuk usaha budayayang ciri utamanya mendorong pemanfaatan secara optimal warisan budaya manusia sejauh memiliki kode pemikiran yang terekam dalam dokumen yang ada dan siap digunakan dengan tujuan akhir kemajuan budaya ( juga di bidang sains dan agama ) (1982) . Di sini sudah disebut agama namun belum spesifik. Setiap agama dan sistem religi memiliki komponen kognitif, dan karena pengetahuan juga adalah bagian dari sistem kognisi manusia, maka itu pula lah tidak ada perkembangan pengetahuan tanpa didahului atau diikuti oleh perkembangan agama dan sistem religi di sebuah masyarakat. Bahkan sistem agama pula yang memulai upaya menyebarkan pengetahuan melalui metode yang sistematik (2019).  Bapak Ade menyimpulkan baha kepustakawanan profetik adalah h kajian pengetahuan kolektif illahi yang berisi program dan indeks dalam kontek memanusiakan (humanisasi) dan membebaskan manusia (liberasi) untuk menambah keimanan kepada Tuhannya (transendensi).

Bapak Ade menjelaskan, Pustaka dalam Bahasa arab yaitu al-kitaabu. Dengan kata dasar ‘kataba’. Salah satu surat yang mengandug kata ini adalah Surah Yasin ayat 12. Struktur dan hubungan kepustakawanan profetik adalah sebagai berikut :

  1. Fiiimaaimmubin(a) yang berarti  Tuhan yang memiliki Kitab yang jelas sebagai pengetahuan kolektifnya -Nya sebagai Maha Data
  2. Wakulna Syaiin ahshoynahuu Tuhan dan makhluknya yang mengumpulkan sebagai Maha Informasi
  3. Wnaktubuu maa qaddamu wa aatsaaraahum,Tuhan dan Makhluknya yang membuat catatan  dan berkas-berkas yang ditinggalkan manusia sebagai bukti sekaligus sumber pengetahuan  bagi diri dan manusia lainnya sebagai Maha Pengetahuan
  4. Inna nahnu nuhyil mautaa Tuhan akan membangkitkan makluknya dengan menerima sesuai denga apa yang dilakukannya selama di dunia secara cepat dan tepat. Sebagai Maha BIjaksana.

Selanjutnya Bapak Ade memaparkan bagaimana cara memperoleh pengetahuan

Terdapat 3 cara yaitu ontologis, epidemologis dan metodologis. Ontologis digmbarkan layaknya sebuah permainan, bersifat sementara dan selalu berubah sampai menuju ke akhirat. Epistemologis diambar dengan peneliti atau seorang pemain dan memiliki aturan main. Dan metodologis berkenaan dengan nilai kehidupan apakah akan mengubah kehidupan atau tidak, yang beorientasi pada nilai humanisasi, liberasi, dan transendensi. peran kepustakawanan profetik antara lain

 • Kepustakawanan profetik mencoba mengangkat hakikat kemanusiaan yang hilang karena tergerus dengan kemajuan dunia industri ,kepustakawanan profetik juga mencoba membebaskan manusia dari kebodohan dan kekejaman structural, kepustakawanan harus dapat mengangkat rasa keadilan yang memihak kepada masyarakat yang lemah.

Terakhir Beliau menutup dengan  dari Plato pengetahuan adalah gabungan dari keyakinan dan ilmu.           

Author: Yasinta/