Dunia kepustakawanan di setiap masa selalu ditantang untuk memberikan kontribusinya terhadap masyarakat dan bangsa, menyesuaikan dengan kondisi ekonomi, politik dan budaya dari masyarakat di mana perpustakaan itu berada. Kemampuan perpustakaan dan profesi pustakawan dalam menjawab tantangan tersebut akan menjadi penentu eksistensi perpustakaan dan pustakawan di era revolusi industry 4.0 yang kini sedang menuju era society 5.0. Salah satu peran penting yang dapat diambil oleh perpustakaan adalah kontribusi dalam Sustainable Development Goals (SDGs) di negara di mana perpustakaan tersebut berada. IFLA, sebagai asosiasi kepustakawanan internasional menyerukan perpustakaan dan pustakawan di seluruh dunia untuk melakukan peran-peran strategis untuk mendukung SDGs di negaranya masing-masing. Sustainable Development Goals (SDGs) merupakan program aksi global yang disepakati secara internasional, termasuk Indonesia, untuk mengurangi kemiskinan dan kesenjangan serta melindungi lingkungan. SDGs berisi 17 Tujuan dan 169 Target yang diharapkan dapat dicapai pada tahun 2030.

Tujuan SDGs

Banyak perpustakaan di Indonesia berusaha menjawab tantangan dengan berbagai program pengembangan, baik dari aspek koleksi, sarana prasarana, fasilitas, program literasi dan banyak lagi. Namun PR kita masih sangat banyak. Perpustakaan yang memiliki sarana prasarana modern dengan fasilitas Komputer dan akses internet, masih saja sepi pengunjung. Kita perlu mempertanyakan mengapa itu bisa terjadi. Jumlah kunjungan masyarakat yang belum cukup tinggi ke perpustakaan bukan hanya tergantung dari koleksi, fasilitas ataupun sarana prasarana, namun juga dipengaruhi oleh kompetensi pustakawan, program, dan layanan yang ada di perpustakaan.  Apakah segala yang ditawarkan oleh perpustakaan dapat memenuhi berbagai kebutuhan pemustaka yang beragam, terutama kebutuhan primer dan sekunder masyarakat pemustakanya?

Di negara-negara maju, di mana masyarakatnya telah terpenuhi kebutuhan primer dan sekundernya dikarenakan kondisi ekonomi yang baik, situasi politik dan keamanan yang relatif lebih stabil, maka perpustakaan mengambil peran dalam memenuhi kebutuhan dalam menambah wawasan, hobi atau bidang minat, kebutuhan berkumpul dan bersosialisasi, dan kebutuhan menciptakan hal-hal baru. Di perpustakaan, pemustaka dapat membuat film, melakukan sesi foto di studio foto, main game kesukaan mereka bahkan game klasik yang sudah tidak ada lagi di pasaran, membuat desain dengan photoshop, bermain musik, menikmati galeri foto dan lukisan dan banyak lagi. Perpustakaan di negara maju telah menjelma menjadi makerspace dan library without wall, menciptakan ruang publik dengan maknanya yang paling sejati. Hal ini juga perlu dilakukan oleh semua jenis perpustakaan di Indonesia, tentu saja disesuaikan dengan kondisi masyarakatnya.

Perpustakaan umum dapat berkontribusi dalam peningkatan kualitas hidup masyarakat di sekitar wilayah di mana perpustakaan tersebut berada. Perpustakaan umum di berbagai negara misalnya, memberikan layanan informasi tentang lowongan pekerjaan, memberikan layanan informasi tentang Kesehatan, peternakan, pertanian, membuat program untuk kaum ibu dan juga generasi milenial. Program-program tersebut disesuaikan dengan kondisi di negara tersebut. Perpustakaan umum di Indonesia perlu melakukan inovasi program yang dapat membantu masyarakat meningkatkan kualitas hidupnya, termasuk yang terkait dengan perekonomian. Di perpustakaan umum daerah di Sukabumi misalnya, memiliki program pembelajaran masyarakat bekerja sama dengan beberapa pihak, yang terdiri dari program belajar Bahasa, seminar tentang internet marketing, pelatihan membuat herbal, dan lain sebagainya. Namun perpustakaan tidak boleh lupa peran utamanya terkait dengan literasi informasi. Di samping memberikan program-program pengembangan masyarakat, perpustakaan juga perlu menyediakan koleksi yang terkait dengan internet marketing, koleksi pengembangan bahasa, koleksi tentang herbal, yang kemudian dapat membuat masyarakat tertarik untuk terus datang ke perpustakaan untuk mengakses koleksi, dan berbagai layanan serta program yang ada di perpustakaan tersebut. Perpsutakaan tidak boleh terjebak pada area program pelatihan tapi kemduian melupakan peran dan fungsinya yang terkait dengan literasi inforamsi.

Perpustakaan khusus ditantang untuk memberikan dukungan penuh pada Lembaga atau perusahaan yang menaunginya, untuk dapat meningkatkan kinerja pegawai yang pada akhirnya akan meningkatkan kinerja atau performa perusahaan. Perpustakaan khusus harus menjadi knowledge management center (KMC) yang dapat memberikan nilai tambah bagi perusahaan dengan mengelola pengetahuan sebagai aset utama perusahaan tersebut. Perpustakaan khusus di Indonesia belum banyak yang mengambil peran sebagai KMC. KMC di berbagai Lembaga atau perusahaan biasanya dikelola oleh profesi lain selain pustakawan. Hal ini sangat disayangkan, karena proses mengelola pengetahuan sesungguhnya sangat dekat dengan pengelolaan informasi di perpustakaan. Namun memang diperlukan kompetensi tambahan bagi pustakawan yang mengelola pengetahuan.  

Di perpustakaan perguruan tinggi, tri dharma perguruan tinggi adalah dasar utama dalam memenuhi kebutuhan sivitas akademika. Koleksi, layanan, fasilitas, sarana prasarana, dan program perpustakaan harus menjawab kebutuhan sivitas akademika dalam menjalankan tri dharma perguruan tinggi. Pustakawan harus  menjadi partner bagi dosen, mahasiswa, dan peneliti dalam menjalani proses belajar mengajar, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Pustakawan memiliki multiperan sebagai pengajar, peneliti, edukator, konsultan bagi sivitas akademika dan juga masyarakat secara umum. Di perguruan tinggi pustakawan bukan hanya sebagai pengelola informasi namun juga pencipta informasi dengan layanan kemas ulang dan paket informasi yang disediakan untuk pemustakanya. Mengedukasi mahasiswa dan dosen tentang berbagai aspek tentang penulisan karya ilmiah, misalnya tentang hal-hal yang terkait dengan aspek hukum dalam informasi.

Pustakawan di perpustakaan sekolah harus ikut serta secara aktif dalam pengembangan kurikulum dan mendukung tercapainya outcome lulusan yang diharapkan oleh sekolah. Ia harus bekerjasama dengan guru dalam mengembangkan proses belajar mengajar di kelas, mengedukasi siswa dalam hal literasi informasi dan budaya baca, mengajarkan metodologi penelitian sederhana serta proses membaca dan berpikir kritis (critical reading dan critical thinking). Layanan dan program yang sederhana misalnya kampanye internet sehat, menyediakan informasi tentang universitas yang menyediakan program studi yang sesuai dengan minat siswa, sesi konsultasi bagi siswa dalam penulisan karya ilmiah, workshop strategi penelusuran informasi di internet, hingga mengajarkan metodologi penelitian sederhana.

Di level  nasional, Perpustakaan harus menjangkau masyarakat yang kesulitan dalam mengakses informasi, baik yang berupa buku, berita media cetak dan elektronik, maupun akses  internet. Program-program perpustakaan juga perlu menjawab berbagai persoalan literasi secara umum, yaitu menurunkan tingkat buta huruf, meningkatkan budaya baca, dan tingat kunjungan ke perpustakaan, juga yang terkait dengan peningkatan kualitas perpustakaan dan SDM pustakawan di seluruh pelosok negeri.

Semua peran ini pada akhirnya akan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia dan dapat menjadi bagian dari perkembangan bangsa dan Negara. Maka, pustakawan di semua jenis perpustakaan harus berkerja keras menjalankan peran-peran penting tersebut. Bekerja profesional dan sepenuh hati dalam melayani harus menjadi komitmen utama pustakawan Indonesia.

Di atas semua itu, peran pem